Deadline yang terus berdatangan, pekerjaan menumpuk, rapat yang tidak ada habisnya, hingga pesan dari atasan di luar jam kerja. Tidak heran jika pekerjaan terkadang membuat kita merasa stres.
Stres karena pekerjaan sebenarnya merupakan hal yang cukup umum. Dalam kondisi tertentu, stres bahkan bisa membuat seseorang lebih fokus dan termotivasi untuk menyelesaikan tugas.
Namun, bagaimana jika rasa lelah dan tertekan tersebut berlangsung terus-menerus? Bisa jadi yang dialami bukan sekadar stres biasa, melainkan burnout.
Lalu, apa perbedaan antara stres dan burnout?
Stres dan burnout ternyata tidak sama
Stres dan burnout memang memiliki beberapa gejala yang mirip, seperti mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, atau mengalami gangguan tidur. Namun, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Stres biasanya muncul ketika seseorang merasa tuntutan yang dihadapi terlalu berat dibandingkan kemampuan atau sumber daya yang dimiliki. Kondisi ini bisa terjadi sementara, misalnya ketika sedang menghadapi deadline atau pekerjaan dalam jumlah besar.
Setelah masalah atau tekanan tersebut berkurang, seseorang biasanya dapat kembali merasa lebih baik.
Sementara itu, burnout cenderung terjadi akibat stres yang berlangsung terus-menerus dan tidak dikelola dengan baik. Seseorang bisa merasa kehabisan energi secara fisik maupun emosional, kehilangan motivasi, serta mulai merasa tidak peduli terhadap pekerjaan yang sebelumnya dijalani.
Dengan kata lain, stres lebih sering membuat seseorang merasa “terlalu banyak yang harus dikerjakan”, sedangkan burnout dapat membuat seseorang merasa “sudah tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun.”
Ciri-ciri stres karena pekerjaan
Stres kerja dapat muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa tanda yang umum antara lain:
- Merasa kewalahan dengan banyaknya pekerjaan.
- Sulit berkonsentrasi ketika pekerjaan sedang menumpuk.
- Menjadi lebih mudah marah atau sensitif.
- Mengalami sakit kepala atau ketegangan otot.
- Tidur terganggu karena memikirkan pekerjaan.
- Merasa cemas ketika menghadapi deadline.
- Tetap memiliki keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan meskipun sedang tertekan.
Yang perlu diperhatikan, stres tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Stres dalam jangka pendek dapat menjadi respons tubuh terhadap tantangan dan membantu seseorang lebih waspada.
Masalah muncul ketika tekanan tersebut berlangsung terlalu lama atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Bagaimana dengan burnout?
Burnout biasanya terasa lebih dalam dan menetap. Kondisi ini tidak hanya membuat seseorang lelah setelah bekerja, tetapi dapat membuat energi dan motivasi terasa terkuras dalam waktu yang lebih panjang.
Beberapa tanda burnout yang patut diperhatikan antara lain:
- Merasa sangat lelah meskipun sudah beristirahat.
- Kehilangan motivasi untuk bekerja.
- Mulai merasa sinis, apatis, atau tidak peduli terhadap pekerjaan.
- Merasa pekerjaan yang dilakukan tidak lagi bermakna.
- Sulit berkonsentrasi atau menyelesaikan tugas sederhana.
- Performa kerja menurun.
- Lebih mudah frustrasi atau emosional.
- Merasa ingin terus menjauh dari pekerjaan.
- Waktu istirahat tidak lagi terasa cukup untuk memulihkan energi.
Salah satu hal yang sering membuat burnout sulit dikenali adalah seseorang mungkin masih mampu bekerja dan menyelesaikan tugas. Dari luar, semuanya terlihat normal, padahal secara mental dan emosional dirinya sudah sangat kelelahan.
Stres atau burnout? Coba perhatikan perbedaannya
Bayangkan kamu mendapatkan tugas besar dengan deadline yang cukup dekat.
Jika kamu mengalami stres, mungkin kamu merasa panik, kewalahan, dan banyak memikirkan pekerjaan tersebut. Namun, setelah tugas selesai atau tekanan berkurang, kamu perlahan bisa merasa lega dan kembali menikmati aktivitas lainnya.
Berbeda dengan burnout. Bahkan setelah pekerjaan selesai atau mendapatkan waktu istirahat, rasa lelah dan tidak bersemangat tetap bertahan. Pekerjaan yang dulu terasa biasa saja bisa mulai terasa sangat berat.
Burnout juga dapat membuat seseorang kehilangan rasa puas terhadap pencapaian yang sebelumnya membuatnya bangga.
Mengapa burnout bisa terjadi?
Burnout tidak selalu disebabkan oleh jumlah pekerjaan yang terlalu banyak. Lingkungan dan cara seseorang bekerja juga dapat berperan.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko burnout antara lain:
- Beban kerja yang terus-menerus tinggi.
- Jam kerja yang panjang.
- Kurangnya waktu istirahat.
- Tidak memiliki kendali yang cukup terhadap pekerjaan.
- Kurangnya dukungan dari lingkungan kerja.
- Konflik dengan rekan kerja atau atasan.
- Ekspektasi pekerjaan yang tidak realistis.
- Kesulitan memisahkan kehidupan pribadi dan pekerjaan.
- Merasa usaha yang diberikan tidak dihargai.
Di era kerja digital, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga semakin mudah hilang. Notifikasi pekerjaan yang masuk pada malam hari atau saat sedang berlibur dapat membuat pikiran tetap “berada di kantor” meskipun tubuh sudah berada di rumah.
Jangan tunggu sampai benar-benar kelelahan
Jika mulai merasa stres karena pekerjaan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba.
Pertama, kenali sumber stres. Coba perhatikan apa yang paling menguras energi. Apakah beban kerja, deadline, hubungan dengan rekan kerja, atau kesulitan mengatur waktu?
Kedua, tentukan prioritas. Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu yang sama. Membuat daftar tugas berdasarkan tingkat urgensi dapat membantu mengurangi rasa kewalahan.
Ketiga, beri tubuh waktu untuk beristirahat. Istirahat bukan berarti malas. Tidur yang cukup, makan secara teratur, bergerak secara aktif, dan mengambil jeda di sela pekerjaan dapat membantu menjaga kondisi fisik dan mental.
Keempat, buat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jika memungkinkan, hindari terus memeriksa email atau pesan pekerjaan setelah jam kerja. Batas yang sehat dapat membantu otak benar-benar beristirahat.
Kelima, jangan ragu meminta bantuan. Membicarakan beban kerja dengan atasan, rekan kerja, orang terdekat, atau tenaga profesional dapat menjadi langkah penting ketika tekanan sudah terasa sulit ditangani sendiri.
Kapan harus mencari bantuan profesional?
Stres dan kelelahan tidak selalu berarti seseorang mengalami burnout. Namun, jika rasa lelah, kehilangan motivasi, gangguan tidur, perubahan suasana hati, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari terus berlangsung dan mulai mengganggu kehidupan, sebaiknya jangan diabaikan.
Tenaga kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater dapat membantu memahami kondisi yang sedang dialami dan menentukan dukungan yang sesuai.
Yang terpenting, jangan menganggap kelelahan sebagai sesuatu yang harus selalu ditahan.
Pekerjaan memang bagian dari kehidupan, tetapi kesehatan fisik dan mental tetap perlu menjadi prioritas. Mengenali perbedaan antara stres biasa dan burnout sejak awal dapat membantu kita mengambil langkah sebelum kondisi semakin berat.
